Gunung Salak

Posted: Januari 11, 2012 in kumpulan sejarah gunung di jawa

This slideshow requires JavaScript.

Gunung Salak sejak jaman dahulu sudah sering dikunjungi oleh para pejiarah, dahulu terdapat patung pemujaan di puncak gunung Salak. Terdapat juga makam Embah Gunung Salak yang sering dikunjungi para pejiarah. Di kaki Gunung Salak banyak terdapat tempat-tempat keramat, makam keramat ada juga pura dengan sebutan Kuil Prabu Siliwangi . Pendakian terbaik dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim penghujan jalur menjadi becek seperti rawa, licin sekali dan banyak lintah. Selain itu angin seringkali bertiup kencang.
Gunung ini dapat didaki dari beberapa jalur diantaranya jalur yang umum sering dipakai adalah jalur dari Wana Wisata Cangkuang Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, dari Cangkuang ini ada dua jalur yakni jalur lama yang menuju puncak Gunung Salak 1 dan jalur baru yang menuju Kawah Ratu. Jalur yang penuh dengan nuansa mistik untuk berjiarah adalah jalur dari Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi.
JALUR CANGKUANG CIDAHU
Wana Wisata Cangkuang Cidahu ini selain menjadi tempat perkemahan dengan pemandangan air terjun yang indah, sering digunakan para pengunjung untuk menuju ke Kawah Ratu. Dari Jalur ini pendaki juga dapat menuju ke puncak gunung Salak I. Dari Jakarta kita dapat menggunakan bus jurusan Sukabumi atau kereta api dari Bogor jurusan Sukabumi turun di Cicurug. Selanjutnya dari Cicurug disambung dengan mobil angkot jurusan Cidahu.
Di sekitar pintu masuk Wana Wisata ini terdapat tempat-tempat yang nyaman untuk berkemah, juga banyak terdapat warung-warung makanan. Untuk menuju ke air terjun kita harus turun ke bawah dari MCK di dekat pintu masuk pendaftaran. Untuk menuju ke Kawah Ratu diperlukan waktu sekitar 3-5 jam perjalanan, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak I diperlukan waktu sekitar 8 jam.
Dari Bumi perkemahan menuju Shelter I Jalur awal curam berupa batu-batuan yang ditata rapi. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis yang lebat dengan pohon-pohon yang besar, sekitar 1/2 jam kemudian kita akan menempuh jalur yang berfariasi, datar, naik dan turun.
Menuju Shelter II jalur mulai lembab dan basah, dimusim penghujan banyak terdapat pacet. Beberapa sungai kecil akan kita lewati, namun bila musim kemarau sungai ini akan kering. Kita akan menyusuri jalur yang banyak ditumbuhi pohon-pohon pisang, namun jangan berharap menemukan buah pisang yang matang karena daerah ini banyak di huni monyet. Bila hari menjelang sore kita akan menyaksikan monyet-monyet bergelantungan di sarang mereka disekitar jalur ini.
Di Shelter II ini terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda, dengan pemandangan hutan tropis yang masih lebat. Di dekat Shelter II ini terdapat sungai yang kering pada saat musim kemarau.
Menuju Shelter III kita akan melewati jalan-jalan yang becek, berlumpur dan banyak pacet terutama di musim hujan. Di beberapa tempat jalur berupa tanah licin yang curam, namun kita masih agak tertolong adanya akar-akar pohon. Shelter III tempatnya luas dan terdapat sungai yang jernih, di tempat ini pendaki dapat mendirikan tenda.
Untuk menuju Shelter IV jalur semakin curam terutama di musim hujan licin sekali karena berupa tanah merah. Di beberapa tempat kita akan melewati tempat-tempat becek yang kadang kedalamannya mencapai dengkul kaki. Jalur akan semakin parah pada saat musim hujan dan banyak sekali pacet. Kita akan melewati dua buah sungai yang jernih airnya, sebaiknya kita mengambil air bersih disini karena disini lah sumber air bersih terakhir terutama di musim kemarau.
Shelter IV berupa persimpangan jalan, untuk menuju ke Kawah Ratu ambil jalan ke kiri, sedangkan untuk menuju ke puncak Gunung Salak ambil jalur ke kanan. Di shelter IV yang cukup luas ini pendaki juga dapat mendirikan tenda. Di sebelah kanan shelter IV terdapat sungai kecil yang kering dimusim kemarau.
MENUJU KAWAH RATU
Dari Shelter IV masih diperlukan waktu sekitar 1 jam untuk menuju Kawah Ratu. Kawah ini terdiri 3 kawah; Kawah Ratu (paling besar), Kawah Paeh (kawah mati), Kawah Hurip (kawah hidup). Kawah Ratu termasuk kawah aktif dan secara berkala mengeluarkan gas berbau belerang.
Dianjurkan agar berhati -hati setibanya di kawasan Kawah Ratu, perhatikan jalan yang dilalui. Di kiri-kanan tampak letupan -letupan kecil kawah aktif yang bersuhu sangat panas. Kawah ratu berupa sungai dengan batu-batuan belerang yang menghasilkan panas, air yang mengalir terasa hangat ada juga yang sangat panas. Banyak wisatawan baik tua maupun anak-anak datang ketempat ini untuk mandi dan melumuri badan dengan belerang yang berkasiat menghilangkan penyakit kulit maupun memutihkan badan. Sebaiknya kita tidak berlama-lama di Kawah Ratu terutama di musim penghujan. Dilarang mendirikan tenda di Kawah Ratu dan tidak minum air Kawah Ratu yang sudah bercampur dengan air belerang.
MENUJU PUNCAK GUNUNG SALAK
Dari Shelter IV kita berbelok ke kanan setelah melewati sungai kecil kita akan bertemu dengan jalur lama di sebuah tempat yang agak luas. Untuk menuju ke puncak kita berjalan ke kiri mengikuti pagar kawat berduri. Jalur agak landai menyusuri punggung gunung yang becek dan di selimuti hutan lebat. Di sisi kiri dan kanan jalur ini banyak ditumbuhi pohon pandan yang daunnya berduri tajam menghalangi jalan, sehingga kita perlu agak hati-hati.
Di musim penghujan jalur ini sangat becek seperti rawa-rawa dan banyak pacet/lintah. Berhubung jalur ini jarang dilalui dan seringkali hilang tertutup pohon dan rumput sebaiknya membawa golok untuk membuka jalur. Setelah 1 jam melintasi rawa-rawa Jalur semakin curam melintasi akar-akar pohon dan bebatuan menyusuri sisi tebing yang sangat berbahaya. Jalur kadang sedikit menurun, agak landai, kemudian kembali menanjak tajam. 1 jam kemudian kita akan sampai di Shelter 3 jalur lama.
Dari Shelter 3 menuju Shelter 4 kita membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan melintasi akar-akar pohon, yang tertutup tanah lunak sehingga kaki bisa kejeblos. Bila angin bertiup kencang maka pohon-pohon akan bergoyang dan tanah yang kita injak pun akan bergoyang. Dari tempat ini kita dapat melihat Kawah Ratu dengan sangat jelas. Di sekitar daerah ini kadangkala kita akan mencium bau belerang yang berasal dari Kawah.
Jalur ini sangat sempit dengan sisi kiri kanan berupa jurang yang curam dan dalam. Jalur berfariasi sedikit turunan kemudian sedikit landai, lalu kita mulai mendaki punggung yang curam kembali. Shelter IV ada sedikit ruang untuk mendirikan 1 buah tenda kecil dengan sisi kanan berupa jurang. Bau belerang yang berasal dari Kawah Ratu kadang tercium ketika angin bertiup ke arah puncak gunung.
Sekitar 1 jam menuju Shelter 5 jalur sedikit menurun kemudian kembali menanjak tajam, menyusuri punggung gunung di antara akar-akar pohon-pohon. Kemudian kita akan memanjat tebing batu curam, kedua tangan kita harus mencari pegangan batu, sehingga semua barang bawaan harus diikat atau dimasukkan kedalam tas. Di Shelter 5 pendaki dapat mendirikan tenda, tempat ini agak luas sehingga bisa digunakan untuk mendirikan beberapa tenda.
Menuju Shelter 6 memerlukan waktu sekitar 1 Jam Jalur semakin curam dan berbahaya, jalur begitu sempit sehingga tidak ada tempat untuk beristirahat. Menuju Shelter 7 jalur semakin curam dan berbahaya kita perlu waktu sekitar 1 jam untuk mendaki punggung gunung yang semakin menanjak. Jalur kebanyakan melintasi akar-akar pohon sehingga bila angin bertipu kencang kita pun akan bergoyang-goyang sehingga menggetarkan jantung.
Dari Shelter 7 kita hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menuju puncak gunung Salak I, jalur sudah tidak terlalu curam lagi, masih melintasi akar-akar pohon dan batu-batuan berselimut tanah gembur.
Puncak gunung Salak I masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, tempat ini sangat luas dapat digunakan untuk mendirikan beberapa tenda. Terdapat beberapa makam kuno salah satunya makam Embah Gunung Salak. Terdapat juga sebuah pondok untuk beristirahat bagi para pejiarah, Air hujan dari pondok ini ditampung dalam sebuah bak penampungan, sehingga dapat digunakan oleh para pendaki dan para pejiarah. Angin kencang sering bertiup, terutama di musim penghujan.
Untuk mendaki gunung Salak sebaiknya dilakukan pada pertengahan musim kemarau, biasanya jalur tidak terlalu becek, kemungkinan hujan tidak turun, tidak ada pacet / lintah, angin tidak terlalu kencang. Di musim penghujan jalur tertutup tanaman harus membawa golok untuk membuka jalur terutama alang-alang dan daun pandan yang berduri tajam. Lakukan pendakian pada siang hari karena pendakian di malam hari sangat berbahaya berhubung banyaknya jalur-jalur yang sempit menyusuri jurang, juga banyaknya jalur yang memerlukan bantuan kedua tangan kita untuk berpegangan sehingga sulit memegang lampu senter.
JALUR CANGKUANG CIDAHU
Rute
1 Wanawisata Cangkuang Cidahu
2 Shelter 1 ( Jalur Baru )
3 Shelter 2 ( Jalur Baru )
4 Shelter 3 ( Jalur Baru ) tempat berkemah, ada sungai
5 Shelter 4 ( Jalur Baru ) tempat berkemah, ada sungai kecil
6 Kiri Ke Kawah Ratu / Kanan Ke Puncak Gunung Salak I
7 Shelter III ( Jalur Lama )
8 Shelter IV ( Jalur Lama )
9 Shelter V ( Jalur Lama )
10 Shelter VI ( Jalur Lama )
11 Shelter VII ( Jalur Lama )
12 Puncak Gunung Salak I
JALUR GIRI JAYA ( CURUG PILUNG )
Untuk menuju puncak Gunung Salak pendaki dapat melalui Jalur Giri Jaya dengan waktu tempuh sekitar 5 – 8 jam perjalanan. Jalur ini tepatnya berada di Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Untuk menuju desa Giri Jaya dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan Ojek dari Cicurug dengan ongkos sekitar Rp. 7.500,- Atau pendaki dapat berjalan kaki dengan waktu tempuh sekitar 3 jam perjalanan. Tidak ada kendaraan umum yang menuju Giri Jaya sehingga tempat ini tidak begitu dikenal.
Sesampainya kita di pintu masuk Wana Wisata Curug Pilung, dengan berjalan kaki beberapa meter kita akan melihat gapura pintu masuk Pasareyan Eyang Santri. Kita akan melewati kompleks makam yang penuh suasana magis. Jalan setapak di kompleks Pasareyan Eyang Santri sangat bersih dan rapi. Makam keramat ini seringkali dikunjungi oleh para pejiarah dari luar Sukabumi.
Dari kompleks pasareyan Eyang Santri kita berjalan melalui rumah-rumah penduduk, kemudian akan sampai di kebun-kebun penduduk. Setelah berjalan sekitar 15 menit kita akan sampai disebuah tempat yang sering digunakan Eyang Santri untuk bertapa. Di pertapaan ini terdapat MCK, pendaki harus mengambil air bersih disini karena selebihnya hingga mencapai puncak tidak terdapat mata air. Terdapat Air terjun yang sangat indah di bawah pertapaan Eyang Santri, air terjun Curug pilung di atasnya lebar seperti danau, baru airnya tumpah membentuk air terjun. Para pendaki yang berkemah di sekitar tempat ini harus berhati-hati, karena sering diganggu oleh babi hutan. Biasanya para pendaki menginap di Pondok Pak Irwan. Pak Irwan sangat baik banyak membantu para pendaki yang kesasar turun melalui jalur ini setelah mendaki Gunung Salak.
Dari Pertapaan Eyang Santri jalur masih agak landai melewati pohon-pohon damar yang masih pendek, di siang hari sangat panas namun pemandangan sangat indah. Bila cuaca bagus kita dapat menyaksikan puncak Gunung Gede dan Pangrango dengan sangat jelas. Lereng-lereng Gunung Salak sangat indah sekali, banyak ditumbuhi pohon-pohon besar dan lebat. Kita mulai memasuki kawasan hutan tropis. Sekitar 1 jam perjalanan jalur masih agak landai melewati jalan air yang sempit dan licin. Di beberapa tempat banyak ditumbuhi pohon pisang dan pandan.
Jalur mulai menanjak curam melewati tanah yang lunak sehingga sangat licin, di musim penghujan jalur ini sangat licin sekali dan banyak terdapat pacet. Di sisi jalur juga sering kita jumpai pohon pandan dengan daun yang berduri tajam menghalangi jalur. Pendaki tidak akan menemukan tempat yang cukup luas dan kering untuk mendirikan tenda. Sekitar 3 hingga 4 jam perjalanan kita akan sampai di sebuah makam Pangeran Santri. Di sekitar makam keramat ini terdapat mushola dan sebuah pondok. Di belakang pondok terdapat bak penampungan air yang berasal dari pipa saluran air.
Dari makam Pangeran Santri ini jalur semakin curam melewati akar-akar pohon dan tanah, sekitar 2 jam perjalanan kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII.
Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 1/2 jam kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I. Di puncak gunung Salak I ini terdapat makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah.
1 Cicurug (Jakarta -Sukabumi)
2 Wana Wisata Curug Pilung, Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu
3 Pertapaan Eyang Santri
4 Perkebunan Damar
5 Hutan
6 Makam Pangeran Santri
7 Shelter VII
8 Puncak Gn. Salak 1
JALUR GIRI JAYA ( CISAAT – CICURUG )
Untuk menuju ke desa Girijaya dari Jakarta naik bus (kereta) jurusan Sukabumi turun di Cicurug, kemudian disambung dengan menggunakan mobil angkot ke Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Sukabumi. yang hanya ada di pagi hari.
Pendakian di mulai dari gapura pintu masuk, menyusuri jalan berbatu. Di kiri kanan terdapat perkebunan, persawahan, dan pemukiman penduduk. Di sebelah kiri jalur terdapat sungai kecil yang sangat jernih, di sinilah pendaki harus mempersiapkan air untuk perjalanan karena di sepanjang perjalanan tidak terdapat mata air. Di depan mata kita nampak puncak gunung Salak dengan sangat anggunnya.
Dengan menyusuri punggungan bukit yang ditumbuhi semak-semak diselingi pohon jenis paku-pakuan kita bisa memandang lereng punggung gunung salak lainnya yang menjadi jalur Girijaya melalui Wana Wisata Curug Pilung. Dari kejauhan nampak pondok Irwan yang jauh dari pemukiman penduduk ditengah-tengah perkebunan damar. Tampak juga bangunan tembok berwarna putih yang kokon menjadi tempat bertapa Eyang Santri. Dibelakangnya tampak pula punggungan bukit yang membentuk jalur Cangkuang, Javana Spa nampak dari kejauhan berada ditengah-tengah rerimbunan kehijauan hutan tropis di lereng Gn. Salak.
Setelah berjalan sekitar 2 jam kita mulai memasuki kawasan yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Beberapa pohon telah ditebangi sehingga apabila pohon-pohon besar di punggungan gunung ini habis dikawatirkan jalur pendakian ini akan menjadi terbuka dan panas. Selanjutnya kita melintasi kawasan hutan jalur agak sempit dan licin terutana di musim hujan. Jalur pendakian seringkali tertutup oleh daun-daun yang berguguran, sehingga tanah apalagi bekas tapak kaki kadangkala tidak terlihat. Untuk itu sebaiknya melakukan pendakian di siang hari, begitu juga untuk turun gunung sebaiknya dilakukan di siang hari.
Sekitar 3 jam perjalanan kita akan sampai di makam Kanjeng Pangeran Santri. Di sekitar kompleks Makam Keramat ini terdapat bangunan pondok untuk para pejiarah, juga terdapat Mushola dan bak penampungan air untuk keperluan sembahyang, masak, mandi, terdapat juga sebuah WC sederhana.
Dari makam Pangeran Santri ini jalur semakin curam melewati akar-akar pohon dan tanah, dengan menempuh waktu sekitar 2 jam perjalanan kita akan sampai di pertemuan jalur yang berasal dari Cangkuang, tepatnya di shelter VII.
Dari Shelter VII jalur sudah mulai agak landai melewati akar-akar pohon. Sekitar 1/2 jam kemudian kita akan sampai di puncak Gunung Salak I. Di puncak gunung Salak I ini terdapat makam Embah Gunung Salak yang nama aslinya Raden K.H. Moh. Hasan Bin Raden K.H. Bahyudin Braja Kusumah. Tidak jauh dari makam Embah Gunung Salak, terdapat makam kuno yang lain, yakni makam Raden Tubagus Yusup Maulana Bin Seh Sarip Hidayatullah.
1 Cicurug (Jakarta -Sukabumi)
2 Cisaat
3 Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu
4 Gapura pintu masuk Gn. Salak
5 Kebun dan Persawahan
6 Hutan
7 Makam Pangeran Santri
8 Shelter VII
9 Puncak Gunung Salak 1
PASIR RENGIT
Jalur pendakian dari Pasir Rengit, Cibatok ini untuk menuju ke Kawah Ratu medannya menanjak dan berbatu dengan air terjun Pasir Reungit di awal pendakian. Di rute ini bisa di jumpai dua kawah berukuran kecil, yakni kawah Monyet dan kawah Anjing. Pada musim hujan beberapa bagian medannya berubah menjadi saluran air alami.
Di sekitar desa Pasir Reungit terdapat Bumi Perkemahan dan tiga air terjun yakni, curug Cigamea satu, curug Cigamea dua, dan curug Seribu, yang dapat disinggahi sebelum ke Kawah Ratu.
Untuk menuju ke Pasir Reungit dari stasiun Bogor naik mobil angkot jurusan Bebulak. Kemudian dari terminal Bebulak disambung dengan mobil jurusan Leuwiliang, turun di simpang Cibatok. Dari Cibatok disambung lagi dengan mobil angkutan pedesaan ke Gunung Picung atau Bumi Perkemahan Gunung Bunder yang berakhir di Pasir Reungit.

Gunung Cikuray

Posted: Januari 11, 2012 in kumpulan sejarah gunung di jawa

Gunung Cikuray

This slideshow requires JavaScript.

Gunung Cikuray yang berlokasi di wilayah Garut Jawa Barat, dan merupakan Gunung Berapi yang sudah tidak aktif lagi, berada tak jauh dari Gunung Papandayan dan dapat terlihat jelas menjulang dari terminal Garut. Gunung Cikurai menyimpan pesona alam yang sangat luar biasa bersama dengan Gunung Papandayan, Gunung  Guntur dan Gunung Satria.

Untuk mendaki gunung ini kita terlebih dahulu harus mencapai sebuah desa yang dikenal dengan nama Cilawu. Dari terminal Guntur Garut kita dapat mencari angkot nomor 06 jurusan Garut-Cilawu dan turun sekitar Portal Perkebunan Teh DewuehManggun, selanjutnya kita dapat meneruskan perjalanan yang dapat kita tempuh baik dengan berjalan kaki atau dnegan menggunakan sarana ojek motor yang banyak tersedia, mengingat jarak antara portal tersebut dengan pintu hutan sekitar 7-10 Km, maka ada baiknya untuk menyimpan tenaga tak ada salahnya mengeluarkan tambahan ongkos. Pintu hutan yang dimaksud ditandai dengan sebuah pemancar televisi, yang sangat berguna bagi masyarakat garut menikmati hiburan layar kaca.

Waktu yang dibutuhkan untuk mendaki gunung Cikurai dari pintu hutan, kurang lebih 7 jam yang harus dilalui dengan persiapan fisik dan cadangan logistik yang cukup, karena selama pendakian sulit ditemukan sumber mata air, kecuali tentunya bila hujan.

Yang jelas, keadaan di puncak sangat fantastis, ufuk fatamorgana bagaikan menyembuhkan sendi-sendi tulang setiap pendaki, tapi anda harus hati-hati karena tiupan angin sangat kencang mengingat elevasi dari gunung ini

Gunung Ciremai

Posted: Januari 11, 2012 in Uncategorized

Gunung Ciremai Lewat Jalur Linggarjati

Linggarjati adalah gerbang utama menuju Ciremai, selain juga terkenal dahulu dengan perjanjian Linggarjati jaman penjajahan Belanda. Untuk menuju Linggarjati, dari terminal Cirebon, naik bis jurusan Kuningan dan turun di terminal Cilimus atau di pertigaan menuju pusat desa Linggarjati lalu meneruskan menuju desa Linggarjati dengan menggunakan minibus. Disana kita bisa menginap di rumah – rumah penduduk daripada di hotel – hotel yang bertarif cukup mahal.

Desa Linggarjati merupakan desa yang bersejarah dimana kita bisa mengunjungi Gedung Linggarjati, yang dijadikan museum untuk mengenang perjanjian Linggarjati yang dilaksanakan tahun 1946. Setelah pendakian kita bisa menikmati pemandian air panas yang terletak di Desa Sangkan Hurip, 4 km ke arah timur Linggarjati, yang mengandung yodium, berbeda dengan kebanyakan pemandian air panas alami yang mengandung belerang.

Jalur pendakian Linggarjati ini sangat jelas, karenanya menjadi pilihan utama para pendaki. Dibandingkan dengan jalur Palutungan, jalur Linggarjati ini lebih curam dan sulit, dengan kemiringan sampai 70 derajat. Di jalur ini, air hanya terdapat di Cibunar. Dari Desa Linggarjati berjalan lurus, kurang lebih ½ jam, mengikuti jalan desa menuju hutan pinus, kita akan sampai di Cibunar ( 750 mdpl ). Disini kita menjumpai jalan bercabang, ke arah kiri menuju sumber mata air dan lurus menuju arah puncak. Kalau tidak bermalam di Desa Linggarjati, kita bisa berkemah di Cibunar. Persediaan air sebaiknya disiapkan disini, karena setelah ini tidak ada mata air lagi.

Dari Cibunar, kita akan mulai mendaki melewati ladang dan hutan pinus, dan kita akan melewati Leuweung Datar ( 1.285 mdpl ), Condong Amis ( 1.350 mdpl ), dan Blok Kuburan Kuda ( 1.580 mdpl ), disini kita dapat mendirikan tenda. Dari Cibunar ke Blok Kuburan Kuda diperlukan waktu kira – kira 3 jam.

Jalur akan semakin curam dan kita akan melewati Pengalap ( 1.790 mdpl ) dan Tanjakan Binbin ( 1.920 mdpl ) dimana kita bisa temui pohon – pohon palem merah. Selanjutnya kita akan melewati Tanjakan Seruni ( 2.080 mdpl ) dan Bapa Tere ( 2.200 mdpl ), kemudian kita sampai di Batu Lingga ( 2.400 mdpl ), dimana terdapat sebuah batu cukup besar di tengah jalur. Menurut cerita rakyat, dasar kawah gunung Ciremai sama tingginya dengan Batu Lingga ini. Perjalanan dari Kuburan Kuda sampai Batu Lingga memakan waktu antara 4 – 5 jam. Di beberapa pos, kita dapat menjumpai nama tempat tersebut, walaupun kadang kurang jelas karena dirusak.

Dari Batu Lingga kita akan melewti Sangga Buana Bawah ( 2.545 mdpl ) dan Sangga Buana Atas ( 2.665 mdpl ), mulai di jalur ini kita bisa memandang ke arah pantai Cirebon. Burung – burung juga akan mudah dijumpai di daerah ini, dan selanjutnya kita akan sampai di Pengasinan ( 2.860 mdpl ), yang membutuhkan waktu 1,5 jam dari Batu Lingga. Disekitar Pengasinan banyak dijumpai Edelweis Jawa ( Bunga Salju ) yang langka itu, namun dari waktu ke waktu semakin berkurang jumlahnya akibat sering dipetik. Dari Pengasinan menuju puncak Sunan Telaga / Sunan Cirebon ( 3.078 mdpl ) masih dibutuhkan waktu sekitar ½ jam lagi dengan melewati jalur yang berbatu – batu.

This slideshow requires JavaScript.

 

Dari puncak, akan kita saksikan pemandangan kawah – kawah Gunung Ciremai yang menawan. Bila cuaca cerah kita juga dapat menikmati panorama yang menarik ke arah kota Cirebon, Majalengka, Bandung, Laut Jawa, Gunung Slamet, dan gunung – gunung di Jawa Barat. Pemandangan lebih menarik akan kita jumpai pada waktu matahari terbit dari arah laut Jawa. Suhu di puncak bisa mencapai 8 – 13 C. Dari puncak ke arah kanan kita bisa menuju ke kawah belerang yang ditempuh dalam ½ jam perjalanan. Untuk mengitari puncak dan kawah – kawahnya diperlukan waktu 2,5 jam.

Dari puncak ke arah kiri 15 – 20 menit perjalanan, kita akan jumpai 3 buah cerukan yang dapat kita gunakan untuk bermalam dan membuka tenda, tempatnya cukup nyaman karena posisinya lebih rendah dari puncak dinding kawah. Perjalanan mendaki puncak Gunung Ciremai rata – rata membutuhkan waktu 8 – 11 jam dan 5 – 6 jam untuk turun. Dengan demikian kita harus mendirikan tenda di perjalanan, karena itu perlengkapan tidur dan perlengkapan masak adalah suatu keharusan. Pendakian pada musim kemarau culup menyenangkan karena cuaca lebih bersahabat, dan kondisi medan tidak terlalu licin serta pemandangan lebih cerah

Mengungkap Mitos meletusnya gunung bromo….

Meletusnya gunung Bromo membuat saya tertarik untuk mencari legenda kisah atau hikayat seputar gunung bromo. Browsing dan tanya sama mbah google dengan kata kunci legenda meletusnya bromo…akhirnya ketemu sama artikel berikut yang kutip dari inilah.com. Lebih lanjut mengenai mitos gunung bromo…simak artikel berikut ya…

Hikayat Suku Tengger
Letusan Bromo Hanyalah Jeritan Seorang Bocah

Meletusnya Gunung Bromo dianggap sebagai kejadian alam biasa. Tapi dalam hikayat, Bromo meletus karena pesugihan seorang anak. Suku Tengger memegang teguh kepercayaan itu.

Segerombolan orang memaksa masuk ke kawasan kaldera Gunung Bromo. Mereka mendesak menerobos kedalam. Penjagaan di pintu masuk sebenarnya sudah ketat. Tapi kelompok orang itu, tak mau tahu. Tujuan mereka ingin mendekat dengan Bromo.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf menyayangkan sikap orang-orang itu. Tapi dia juga heran, saat Bromo lagi asyik meletus, sekelompok orang itu malah menuju ke kaldera.

Mestinya, Syaifullah harus membaca sejarah. Segerombolan orang-orang itu bukanlah kawanan biasa. Mereka orang-orang dari suku Tengger. Mereka inilah yang biasa mendiami kawasan Gunung Bromo.

Dalam wikipedia, disebutkan suku Tengger itu sekawanan orang yang tinggal menetap di sekitar gunung Bromo. Mereka menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Malang. Mereka dikenal taat dan menganut agama Hindu. Suku ini masih meyakini keturunan langsung dari kerajaan Majapahit.

Disebut suku Tengger, juga bukan asal-asalan. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger itu. “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger”. Gunung Bromo sendiri dipercaya mereka sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai gunung Brahma. Lidah Jawa kemudian menyebutkan Bromo.

Raja Anteng dan Jaka Seger sendiri bukanlah hikayat biasa. Alkisah. Di era dulu, ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri kejaraan Majapahit. Dialah Raja Anteng.

Anteng memilih mengungsi ke puncak Brahma, kini Bromo. Dia memilih mencari situasi aman karena Majapahit tengah dilanda huru-hara. Menuju ke puncak Brahma, Anteng sempat singgah sejenak di Desa Krajan. Di sana dia sekitar satu windu menetap. Selepas itu, perjalanan pun dilanjutkan menuju Pananjakan. Di daerah inilah dia menetap dan mulai bercocok tanam. Anteng bersama rombongannya yang tak banyak, mulai kehidupan baru. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Brahma tadi.

Di sisi lain, seorang laki-laki juga mengalami hal serupa. Dia dari Kerajaan Kediri. Karena situasi di kerajaannya tak menentu, laki-laki itu memilih mencari tempat aman juga. Itulah Joko Seger.

Joko ini seorang Jawa dari kasta Brahmana. Kalangan bangsawan. Joko pun berjalan menuju puncak Bromo. Tapi sebelum sampai di sana, dia mengasingkan diri ke Desa Kedawung. Tujuan Joko menuju Bromo tak lain sebenarnya mencari pamannya, yang sudah dulu menetap di puncak Bromo. Tapi tak jelas, apakah sang paman itu termasuk dalam rombongan Raja Anteng tadi.

Dus, di Desa Kedawung itu, Joko mendengar adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko pun bergegas menuju kesana. Di perjalanan, Joko tersesat. Bak kisah sinetron, dia pun bertemu dengan Raja Anteng.

Sejak di sinilah kisah drama ini dimulai. Anteng kemudian mengajak Joko ke kediamannya. Mereka tinggal serumah. Kisah pun berlanjut. Anteng dituduh bersenggamma dengan Joko. Para pinisepuh Raja Anteng yang menuduh begitu. Alhasil mereka pun diadili. Joko menampik dirinya menggagahi raja Anteng. Tapi dia kemudian melamar gadis itu. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.

Jadilah Raja Anteng dan Joko Seger sebagai pasangan suami-istri. Sejak itulah pengikut mereka dikenal dengan istilah “Tengger” tadi.

Sewindu perkawinan mereka berjalan, tak kunjung diberi keturunan. Seorang pinisepuh menyarankan keduanya bertapa dan setiap tahun berganti arah. Anteng dan Joko pun mengikuti. Mereka 6 tahun bertapa.

Pertapaan mereka ternyata tak sia-sia. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo, keluarlah semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Raja Anteng dan Joko Seger. Semburan cahaya itu entah berbentuk lava pijar, tak tahu juga. Yang jelas, seandainya kini ada lava pijar masuk ketubuh seseorang, dipastikan dia bakal hangus terbakar. Namun kisah Anteng dan Joko ini berbeda. Mereka digambarkan sakti mandraguna.

Sejak cahaya dari Gunung Bromo itu muncul, tiba-tiba secuil pawisik mengatakan mereka bakal dikarunia anak. Tapi ada syaratnya, anak terakhir mesti dikorban di kawah Gunung Bromo.

Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Anak terakhir bernama R Kusuma.

Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Anteng dan Joko itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka dijadikan pesugihan.

R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Tapi kisah lain menunjukkan saudara-saudara Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain. Kini warga Tengger tetap melaksanakan upacara itu. Mereka menyebutnya dengan nama Kesada. Pada upacara Kesada, dukun selalu meriwayatkan kisah Joko Seger – Rara Anteng.

Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Kini, Bromo kembali meletus. Hanya orang-orang Tengger yang tak takut dengan semburan dari gunung itu. Karena mereka yakin, Kusumah sudah ada di dalamnya.

Gunung Merapi Yogyakarta

adventure
GUNUNG Merapi dipercaya sebagai tempat keraton makhluk halus. Panembahan Senopati pendiri kerajaan Mataram memperoleh kemenangan dalam perang melawan kerajaan Pajang dengan bantuan penguasa Merapi. Gunung Merapi meletus hingga menewaskan pasukan tentara Pajang, sisanya lari pontang-panting ketakutan. Penduduk yakin bahwa Gunung Merapi selain dihuni oleh manusia juga dihuni oleh makhluk- makhluk lainnya yang mereka sebut sebagai bangsa alus atau makhluk halus.

Penduduk di daerah Gunung Merapi mempunyai kepercayaan tentang adanya tempat-tempat angker atau sakral. Tempat angker tersebut dipercayai sebagai tempat-tempat yang telah dijaga oleh mahkluk halus, dimana itu tidak dapat diganggu dan tempat tersebut mempunyai kekuatan gaib yang harus dihormati. Penduduk pantang untuk melakukan kegiatan seperti menebang pohon, merumput dan mengambil ataupun memindahkan benda-benda yang ada di daerah tersebut. Selain pantangan tersebut ada juga pantangan untuk tidak berbicara kotor, kencing atau buang air besar, karena akan mengakibatkan rasa tersinggung makhluk halus yang mendiami daerah itu.
Tempat-tempat yang paling angker di Gunung Merapi adalah kawah Merapi sebagai istana dan pusat keraton makhluk halus Gunung Merapi. Di bawah puncak Gunung Merapi ada daerah batuan dan pasir yang bernama “Pasar Bubrah” yang oleh masyarakat dipercaya sebagai tempat yang sangat angker. “Pasar Bubrah” tersebut dipercaya masyarakat sebagai pasar besar Keraton Merapi dan pada batu besar yang berserakan di daerah itu dianggap sebagai warung dan meja kursi makhluk halus.
Bagian dari keraton makhluk halus Merapi yang dianggap angker adalah Gunung Wutoh yang digunakan sebagai pintu gerbang utama Keraton Merapi. Gunung Wutoh dijaga oleh makhluk halus yaitu “Nyai Gadung Melati” yang bertugas melindungi linkungan di daerah gunungnya termasuk tanaman serta hewan.
Selain tempat yang berhubungan langsung dengan Keraton Merapi ada juga tempat lain yang dianggap angker. Daerah sekitar makam Sjech Djumadil Qubro merupakan tempat angker karena makamnya adalah makam untuk nenek moyang penduduk dan itu harus dihormati.
Selanjutnya tempat-tempat lain seperti di hutan, sumber air, petilasan, sungai dan jurang juga dianggap angker. Beberapa hutan yang dianggap angker yaitu “Hutan Patuk Alap-alap” dimana tempat tersebut digunakan untuk tempat penggembalaan ternak milik Keraton Merapi, “Hutan Gamelan dan Bingungan” serta “Hutan Pijen dadn Blumbang”. Bukit Turgo, Plawangan, Telaga putri, Muncar, Goa Jepang, Umbul Temanten, Bebeng, Ringin Putih dan Watu Gajah.
Beberapa jenis binatang keramat tinggal di hutan sekeliling Gunung Merapi dimiliki oleh Eyang Merapi. Binatang hutan, terutama macan putih yang tinggal di hutan Blumbang, pantang ditangkap atau dibunuh. Selanjautnya kuda yang tinggal di hutan Patuk Alap-alap, di sekitar Gunung Wutoh, dan di antara Gunung Selokopo Ngisor dan Gunung Gajah Mungkur adalah dianggap/dipakai oleh rakyat Keraton Makhluk Halus Merapi sebagai binatang tunggangan dan penarik kereta.
Di puncak Merapi ada sebuah Keraton yang mirip dengan keraton Mataram, sehingga di sini ada organisasi sendiri yang mengatur hirarki pemerintahan dengan segala atribut dan aktivitasnya. Keraton Merapi itu menurut kepercayaan masyarakat setempat diperintah oleh kakak beradik yaitu Empu Rama dan Empu Permadi.
Seperti halnya pemerintahan sebagai sebagai Kepala Negara (Empu Rama dan Empu Permadi) melimpahkan kekuasaannya kepada Kyai Sapu Jagad yang bertugas mengatur keadaan alam Gunung Merapi. Berikutnya ada juga Nyai Gadung Melati, tokoh ini bertugas memelihara kehijauan tanaman Merapi. Ada Kartadimeja yang bertugas memelihara ternak keraton dan sebagai komando pasukan makhluk halus. Ia merupakan tokoh yang paling terkenal dan disukai penduduk karena acapkali memberi tahu kapan Merapi akan meletus dan apa yang harus dilakukan penduduk untuk menyelamatkan diri. Tokoh berikutnya Kyai Petruk yang dikenal sebagai salah satu prajurit Merapi.
Begitu besarnya jasa-jasa yang telah diberikan oleh tokoh-tokoh penghuni Gunung Merapi, maka sebagai wujud kecintaan mereka dan terima kasih terhadap Gunung Merapi masyarakat di sekitar Gunung Merapi memberikan suatu upeti yaitu dalam bentuk upacara-upacara ritual keagamaan. Sudah menjadi tradisi keagamaan orang Jawa yaitu dengan mengadakan selamatan atau wilujengan, dengan melakukan upacara keagamaan dan tindakan keramat.
Upacara Selamatan Labuhan diadakan secara rutin setiap tahun pada tanggal kelahiran Sri Sultan Hamengku Buwono X yakni tanggal 30 Rajab. Upacara dipusatkan di dusun Kinahrejo desa Umbulharjo. Di sinilah tinggal sosok Mbah Marijan sebagai juru kunci Gunung Merapi yang sering bertugas sebagai pemimpin upacara labuhan. Gunung Merapi dan Mbah Marijan adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Keberadaan lelaki tua Mbah Marijan dan kawan-kawannya itulah manusia lebih, mau membuka mata dan telinga batinnya untuk melihat apa yang tidak kasad mata di sekitar Gunung Merapi.
Di Selo setiap tahun baru Jawa 1 Suro diadakan upacara Sedekah Gunung, dengan harapan masyarakat menjadi aman, tentram dan sejahtera, dengan panen yang melimpah. Upacara ini disertai dengan menanam kepala kerbau di puncak Merapi atau di Pasar Bubrah

gunung lawu

Posted: Januari 11, 2012 in kumpulan sejarah gunung di jawa

Misteri Gunung Lawu

Gunung Lawu bersosok angker dan menyimpan misteri dengan tiga puncak utamanya : Harga Dalem, Harga Dumilah dan Harga Dumiling yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini masyarakat setempat sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon kabarnya gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan ada hubungan dekat dengan tradisi dan budaya keraton, semisal upacara labuhan setiap bulan Sura (muharam) yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta. Dari visi folklore, ada kisah mitologi setempat yang menarik dan menyakinkan siapa sebenarnya penguasa gunung Lawu dan mengapa tempat itu begitu berwibawa dan berkesan angker bagi penduduk setempat atau siapa saja yang bermaksud tetirah dan mesanggarah.

Siapapun yang hendak pergi ke puncaknya bekal pengetahuan utama adalah tabu-tabu atau weweler atau peraturan-peraturan yang tertulis yakni larangan-larangan untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan, dan bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M). Alkisah, pada era pasang surut kerajaan Majapahit, bertahta sebagai raja adalah Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Jinbun Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.

Jinbun Fatah setelah dewasa menghayati keyakinan yang berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Jinbun Fatah seorang muslim. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Jinbun Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi (Demak). Melihat situasi dan kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Akankah jaman Kerta Majapahit dapat dipertahankan?

Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dan wisik pun datang, pesannya : sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terelakkan lagi.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang umbul (bayan/ kepala dusun) yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang umbul itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Niat di hati mereka adalah mukti mati bersama Sang Prabu . Syahdan, Sang Prabu bersama tiga orang abdi itupun sampailan di puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah : Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus surut, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Kepada kamu Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib (peri, jin dan sebangsanya) dengan wilayah ke barat hingga wilayah Merapi/Merbabu, ke Timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Suasana pun hening dan melihat drama semacam itu, tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bagaimana mungkin ini terjadi Sang Prabu? Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini. Dan dua orang tuan dan abdi itupun berpisah dalam suasana yang mengharukan.

Singkat cerita Sang Prabu Barawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani. Bagaimana situasi Majapahit sepeninggak Sang Prabu? Konon sebagai yang menjalankan tugas kerajan adalah Pangeran Katong. Figur ini dimitoskan sebagai orang yang sakti dan konon juga muksa di Ponorogo yang juga masih wilayah gunung Lawu lereng Tenggara.

Gunung Gede Pangrango

 

This slideshow requires JavaScript.

Pesona gunung kembar di Bumi Parahyangan Gede – Pangrango terletak pada posisi astronomis 106o-107o BT dan 6,4o-6,5o LS, yang secara administratif terletak di pangkuan Kabupaten Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Gunung Gede berbentuk gunung api strato yang usianya lebih muda dibanding Gunung Pangrango yang sudah tidak aktif lagi.

RUTE PENDAKIAN:

JALUR I : CIBODAS – TELAGA BIRU

Cibodas merupakan base camp pendakian yang berada di ketinggian 1.450 mdpl. Daerah ini masuk wilayah kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Suhu di daerah ini berkisar antara 8o-25o C. Cibodas juga merupakan daerah tujuan wisata yang mempunyai kebun raya dengan luas 1.000 ha. Dari sini sampai ke puncak berjarak 9,7 km, sedangkan sampai ke Puncak Pangrango berjarak 11 km. Sebelum melakukan perjalanan, para pendaki harus mematuhi tata tertib yang cukup ketat bahkan kini pendaki harus melakukan reservasi atau pemanasan 3 hari sebelum melakukan pendakian. Lima belas menit atau kira-kira 1,5 km selepas Cibodas jalanan landai memotong Ciwulan. Pendaki dapat singgah disebuah danau yang hijau kebiruan akibat perpaduan pantulan langit dan ganggang hijau. Danau yang bernama Telaga Biru ini di kelilingi oleh semak – semak.

TELAGA BIRU – PERTIGAAN CIBEUREUM

Telaga Biru berada diketinggian 1.575 mdpl. Daerah disekitar danau ini merupakan perpindahan vegetasi submontana ke montana. Selepas itu lintasan mulai mendaki sampai Panyangcangan Kuda. Selama 45 menit dengan jarak tempuh 1,3 km pendaki akan tiba di pertigaan Cibeureum yang berada diketinggian 1.625 mdpl. Disini pendaki akan mampir ke Air Terjun Cibeureum yang indah.

CIBEUREUM – SUNGAI AIR PANAS

Disekitar Air Terjun Cibeurem ini juga terdapat Air Terjun seperti Dendeng, Ciwalen, Cikundul yang rata-rata berketinggian 40-50 m. Air terjun tersebut berasal dari hulu sungai yang sama. Disekitar ini pendaki juga dapat menemui flora Epipit, Anggrek Lumut Merah (spagnum gedeanum) yang merupakan endemik yang hidup di tebing-tebing air terjun. Selain itu juga terdapat banyak kelelawar yang berterbangan di goa Lalay. Dipertigaan Cibeureum pendakian dilanjutkan menuju sungai air panas yang akan memakan waktu 1 jam dengan panjang lintasan 2,5 km.

SUNGAI AIR PANAS – KANDANG BATU

Sumber air panas yang membentuk aliran sungai beraliran air panas ini berada di ketinggian 1.250 mdpl. Temperatur pada air panas tersebut berkisar 70o-75o C. Namun temperatur tersebut akan turun jika hari hujan. Selain dapat menghangatkan badan, sumber air panas ini mengandung belerang yang cukup tinggi. Disini pendaki juga dapat menjumpai air terjun dengan kepulan uap air yang keluar dari bongkahan-bongkahan lava. Air terjun tersebut bersuhu rata-rata 45o-50o C.
Setelah melanjutkan perjalanan selama 15 menit, pendaki akan tiba di Lebak Saat yang berarti lembah tanpa air. Di daerah ini mengalir air yang cukup jernih di lembah yang terbuka sehingga cukup kondusif untuk bermalam. Selama 30 menit perjalanan dari sini pendaki akan tiba di Kandang Batu.

KANDANG BATU – KANDANG BADAK

Kandang Batu ini berada di ketinggian 2.220 mdpl. Dinamakan Kandang Batu karena disekitar area ini banyak terdapat material batu yang merupakan letusan dari Gunung Gede. Namun kini banyak batu yang terkikis oleh arus air yang banyak terdapat disekitarnya. Selepas Kandang Batu lintasan mulai menanjak dibanding sebelumnya. Untuk sampai di Kandang Badak diperlukan waktu 1 jam pendakian dengan panjang lintasan 2,2 km.

KANDANG BADAK-PUNCAK PANGRANGO

Dinamakan Kandang Badak karena disekitar daerah pos ini becek akibat hujan sehingga menyerupai sebuah kandang. Pos ini terletak di ketinggian 2.393 mdpl. Beberapa meter setelah Kandang Badak terdapat sebuah persimpangan, yang ke kiri menuju Puncak Gede, sedangkan yang ke kanan menuju Puncak Pangrango. Sebelum melakukan pendakian pada kedua puncak tsb, pendaki harus menyiapkan persediaan air yang terdapat di dekat pos. Dalam perjalanan mereka menuju puncak Pangrango para pendaki akan melewati vegetasi subalpin dengan rerimbunan yang cukup lebat, dengan lintasan yang terjal. Dari Kandang Badak menuju Puncak Pangrango diperlukan waktu 3-4 jam dengan panjang lintasan 3,2 km.
Puncak Pangrango merupakan dataran tertinggi di Taman Nasional Gede-Pangrango. Dataran tersebut sangat rimbun dan sunyi karena jarang didaki dibandingkan puncak Gede. Dari area ini pendaki dapat menyaksikan alun-alun Mandalawangi yang terbentang seluas 5 hektar. Dari tempat ini alun-alun terlihat sangatlah kecil. Pada malam hari dengan cuaca yang cerah, pendaki dapat melihat kerlap-kerlip kota Jakarta dari puncak yang sunyi nan indah ini.

JALUR II : POS GUNUNG PUTRI-LEGOK LEUNCA

Setiap pendaki diwajibkan melapor rencana pendakiannya di kantor TNGP bagian Informasi Center Gunung Putri. Sama seperti di pos Cibodas, kini pendaki juga harus mengadakan reservasi atau pemanasan izin pendakian 3 hari sebelum mendaki. Base Camp Gunung Putri terletak di ketinggian 1.850 mdpl. Panjang lintasan menuju Puncak Gede adlah 7.4 km. Ini lebih singkat dibanding jalur Cibodas yang membentang sepanjang 9.7 km. Setelah perijinan dilakukan pendaki dapat menuju ke pos pemeriksaan (Pos Volunteer). Kondisi lintasan menuju kesana landai, dengan diapit persawahan yang memiliki banyak sumber air. Dari pos pemeriksaan perjalanan dilanjutkan. Pendaki akan melewati vegetasi hutan yang sangat terjaga dengan baik sehingga sangat jarang ditemui bekas-bekas eksploitasi tangan manusia. Menuju Legok Leunca lintasan cenderung datar dan bersemak-semak. Perjalanan ini memakan waktu 60 menit.

LEGOK LEUNCA-BUNTUT LUTUNG

Untuk sampai di Buntut Lutung memerlukan waktu selama 2 jam dengan lintasan menanjak.

BUNTUT LUTUNG-LAWANG SAKETENG

Buntut Lutung merupakan pos yang berada di ketinggian 2.220 mdpl. Daerah disekitarnya merupakan lapangan yang terbuka. Kondisi pos ini cukup memprihatinkan bahkan keadaanya yang nyaris hancur. Pendakian Menuju Lawang Saketeng cukup terjal dengan memakan waktu selama 60 menit.

LAWANG SAKETENG-SIMPANG MALEBER

Lawang Saketeng berada di ketinggian 2.500 mdpl. Selepas pos ini pendaki akan memasuki vegetasi subalpin dengan keragaman hutan yang nyaris sama dan pepohonan yang berukuran kerdil. Adapun jenis pepohonan yang dominan adalah Vaccinum Variangaefolium yang ditumbuhi lumut janggut pada batangnya. Bunga Badi (Anaphalis javanica) dan semak (isache pangrangensis). Untuk sampai simpang Maleber dibutuhkan waktu 30-45 menit.

SIMPANG MALEBER-ALUN-ALUN SURYA KENCANA

Simpang maleber berada di ketinggian 2625 mdpl. Selepas pos ini pendaki akan melewati lintasan yang landai, dengan daerah yang cukup terbuka, suatu pertanda bahwa pendaki akan sampai di alun-alun Surya Kencana bagian timur. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan menuju Alun-Alun bagian barat. Dari simpang Maleber menuju Alun-alun ini membutuhkan waktu 30 menit.

ALUN-ALUN SURYAKENCANA-PUNCAK GEDE

Panjang lintasan yang membentang dari pos Gunung Putri hingga alun-alun ini adalah 6.9 km. Alun-alun ini berada di ketinggian 2.750 mdpl. Daerah ini berupa lembah yang diapit oleh Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Gemuruh (2.927mdpl). Adapun luas Alun-alun ini adalah 50 ha. Disana terdapat sebuah sungai kecil yang membelah bagian alun-alun barat. Vegetasi yang mendominasi adalah Adelweiss (anaphalis javanica), tumbuhan paku (selligua feei) dan juga rerumputan yang masuk kedalam subalpin Grassland. Untuk sampai ke Puncak Gede diperlukan waktu tempuh selama 30 menit, dengan panjang lintasan 1.1 km. Jalannya terjal, melewati pegunungan tipis yang membentuk kelurusan dari arah utara hingga barat laut. Sesampai di puncak tertinggi pendaki dapat menyaksikan beberapa kawah yang terbentang (lihat jalur Cibodas ). Dalam menuju Puncak Pangrango pendaki dapat turun ke Kandang Badak dan kembali mendaki Gunung Pangrango. Untuk sampai ke Puncak Pangrango dari Puncak Gede ini diperlukan waktu 4-5 jam, dengan panjang lintasan 5.3 km.

JALUR III : SELABINTANA-POS I

Selabintana, daerah yang terletak disebelah selatan Gunung Gede ini terdapat Camping Ground sebagai base camp pendakian yang dapat menampung hingga 150-an penginap. Kira-kira 15 km ke arah utara juga terdapat pos pendakian Situ Gunung. Untuk menuju Puncak Gede maupun Situ Gunung, jalur Selabintana adalah jalur yang lebih berat dibandingkan jalur yang lainnya. Selabintana berada diketinggian 700 mdpl dan waktu yang diperlukan untuk pendakian adalah 6-7 jam,dengan panjang lintasan 7,9 km. Selepas selabintana lintasan masih landai dan pada kilometer ke 2,4 atau setelah berjalan selama 45 menit pendaki akan menemui Air Terjun Selabintana yang berada diketinggian 900 mdpl.Air Terjun ini adalah Air Terjun tertinggi se TNGP. Pada jalur ini pendaki juga akan melewati perkebunan teh Goal Para. Sampai memasuki Pos I lintasan masih cenderung landai.

POS I – POS II

Di pos ini terdapat sebuah mata air yang sangat jernih dan lahan perkemahan yang luas. Selepas Pos I lintasan tetap landai dan jelas hingga Pos II.

POS II – POS III

Medan perjalanan menuju pos III merupakan medan terberat dengan lintasan berbatu, mulai menanjak, jurang yang menganga disepanjang sisi lintasan. Jika musim hujan disepanjang lintasan sering terjadi longsor dan sering dihantam badai. Untuk itu disepanjang lintasan ini disediakan tali pegangan sebagai pengaman oleh petugas pendakian Selabintana. Selain itu lintasan ini kadang tidak terlihat karena tertutup semak tinggi yang tumbuh di musim penghujan. Menjelang Pos III pendaki akan menemui air terjun kecil dengan mata air yang jernih dan dingin.

POS III – POS IV

Selepas Pos III lintasan tetap curam. Pada daerah ini pendaki akan melewati medan berbatu sepanjang punggung selatan hingga mencapai ketinggian 2.900 mdpl. Selanjutnya pendaki akan melewati lintasan menurun sepanjang 800 m hingga pos IV.

POS IV – PUNCAK GEDE

POS IV berada dilereng Gunung Gemuruh dan tidak jauh dari Alun-Alun Salabintana. Vegetasi di daerah ini sama dengan vegetasi di alun-alun Suryakencana. Dalam perjalanan menuju puncak pendaki akan melewati punggungan terakhir yang cukup terjal sampai di puncak Gede yang berada diketinggian 2.958 mdpl.