Gunung Bromo Asal Usul Sejarah

Posted: Januari 11, 2012 in kumpulan sejarah gunung di jawa

Mengungkap Mitos meletusnya gunung bromo….

Meletusnya gunung Bromo membuat saya tertarik untuk mencari legenda kisah atau hikayat seputar gunung bromo. Browsing dan tanya sama mbah google dengan kata kunci legenda meletusnya bromo…akhirnya ketemu sama artikel berikut yang kutip dari inilah.com. Lebih lanjut mengenai mitos gunung bromo…simak artikel berikut ya…

Hikayat Suku Tengger
Letusan Bromo Hanyalah Jeritan Seorang Bocah

Meletusnya Gunung Bromo dianggap sebagai kejadian alam biasa. Tapi dalam hikayat, Bromo meletus karena pesugihan seorang anak. Suku Tengger memegang teguh kepercayaan itu.

Segerombolan orang memaksa masuk ke kawasan kaldera Gunung Bromo. Mereka mendesak menerobos kedalam. Penjagaan di pintu masuk sebenarnya sudah ketat. Tapi kelompok orang itu, tak mau tahu. Tujuan mereka ingin mendekat dengan Bromo.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf menyayangkan sikap orang-orang itu. Tapi dia juga heran, saat Bromo lagi asyik meletus, sekelompok orang itu malah menuju ke kaldera.

Mestinya, Syaifullah harus membaca sejarah. Segerombolan orang-orang itu bukanlah kawanan biasa. Mereka orang-orang dari suku Tengger. Mereka inilah yang biasa mendiami kawasan Gunung Bromo.

Dalam wikipedia, disebutkan suku Tengger itu sekawanan orang yang tinggal menetap di sekitar gunung Bromo. Mereka menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Lumajang, Probolinggo dan Malang. Mereka dikenal taat dan menganut agama Hindu. Suku ini masih meyakini keturunan langsung dari kerajaan Majapahit.

Disebut suku Tengger, juga bukan asal-asalan. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger itu. “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger”. Gunung Bromo sendiri dipercaya mereka sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai gunung Brahma. Lidah Jawa kemudian menyebutkan Bromo.

Raja Anteng dan Jaka Seger sendiri bukanlah hikayat biasa. Alkisah. Di era dulu, ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri kejaraan Majapahit. Dialah Raja Anteng.

Anteng memilih mengungsi ke puncak Brahma, kini Bromo. Dia memilih mencari situasi aman karena Majapahit tengah dilanda huru-hara. Menuju ke puncak Brahma, Anteng sempat singgah sejenak di Desa Krajan. Di sana dia sekitar satu windu menetap. Selepas itu, perjalanan pun dilanjutkan menuju Pananjakan. Di daerah inilah dia menetap dan mulai bercocok tanam. Anteng bersama rombongannya yang tak banyak, mulai kehidupan baru. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Brahma tadi.

Di sisi lain, seorang laki-laki juga mengalami hal serupa. Dia dari Kerajaan Kediri. Karena situasi di kerajaannya tak menentu, laki-laki itu memilih mencari tempat aman juga. Itulah Joko Seger.

Joko ini seorang Jawa dari kasta Brahmana. Kalangan bangsawan. Joko pun berjalan menuju puncak Bromo. Tapi sebelum sampai di sana, dia mengasingkan diri ke Desa Kedawung. Tujuan Joko menuju Bromo tak lain sebenarnya mencari pamannya, yang sudah dulu menetap di puncak Bromo. Tapi tak jelas, apakah sang paman itu termasuk dalam rombongan Raja Anteng tadi.

Dus, di Desa Kedawung itu, Joko mendengar adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko pun bergegas menuju kesana. Di perjalanan, Joko tersesat. Bak kisah sinetron, dia pun bertemu dengan Raja Anteng.

Sejak di sinilah kisah drama ini dimulai. Anteng kemudian mengajak Joko ke kediamannya. Mereka tinggal serumah. Kisah pun berlanjut. Anteng dituduh bersenggamma dengan Joko. Para pinisepuh Raja Anteng yang menuduh begitu. Alhasil mereka pun diadili. Joko menampik dirinya menggagahi raja Anteng. Tapi dia kemudian melamar gadis itu. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.

Jadilah Raja Anteng dan Joko Seger sebagai pasangan suami-istri. Sejak itulah pengikut mereka dikenal dengan istilah “Tengger” tadi.

Sewindu perkawinan mereka berjalan, tak kunjung diberi keturunan. Seorang pinisepuh menyarankan keduanya bertapa dan setiap tahun berganti arah. Anteng dan Joko pun mengikuti. Mereka 6 tahun bertapa.

Pertapaan mereka ternyata tak sia-sia. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo, keluarlah semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Raja Anteng dan Joko Seger. Semburan cahaya itu entah berbentuk lava pijar, tak tahu juga. Yang jelas, seandainya kini ada lava pijar masuk ketubuh seseorang, dipastikan dia bakal hangus terbakar. Namun kisah Anteng dan Joko ini berbeda. Mereka digambarkan sakti mandraguna.

Sejak cahaya dari Gunung Bromo itu muncul, tiba-tiba secuil pawisik mengatakan mereka bakal dikarunia anak. Tapi ada syaratnya, anak terakhir mesti dikorban di kawah Gunung Bromo.

Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Anak terakhir bernama R Kusuma.

Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Anteng dan Joko itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka dijadikan pesugihan.

R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Tapi kisah lain menunjukkan saudara-saudara Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain. Kini warga Tengger tetap melaksanakan upacara itu. Mereka menyebutnya dengan nama Kesada. Pada upacara Kesada, dukun selalu meriwayatkan kisah Joko Seger – Rara Anteng.

Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

Kini, Bromo kembali meletus. Hanya orang-orang Tengger yang tak takut dengan semburan dari gunung itu. Karena mereka yakin, Kusumah sudah ada di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s